sadarkah?

June 16th, 2007 by icha-ramone

Perlu sesuatu untuk diperjuangkan. Atas hal
apa? Nafsu belaka? Ketidaksetiaan? Semangat yang tinggi? Kawan, rasanya seperti
seoonggok rambut tersangkut di tenggorokkan. Ketidaknyamanan. Ketidaknyataan.
Semua maya. Bahkan hilang. Akhirnya lagi – lagi mati rasa. Apakah dia ada?
Kurasa hanya terasa hembusan angin menyibak helaian rambutku. Apakah ini
salahku? Salah domba – domba itu? Ayolah, hadirkan, jangan pernah tenggelam
lagi. Toh pasti akan ada terbit.
Atau mungkin hilang selamanya? Rumput
bingung, bunga, dan daun hanya saksi. Tanah menggeliat. Air hujan sudah
membalikkan kegunaannya dan akhirnya menyerap. Cepat berlari ke bukit seberang.
Ambil pupuk, lempari akarnya. Tuhan, maafkan. Aku hanya seorang petani yang
identik terhadap pendosa. Membuang – buang sesuatu yang berguna namun hanya
layu yang kudapat. Tak bisakah aku membuatnya menjadi tumbuh subur? Namun aku
tersadar, bahwa aku tetap hanya seorang pendosa. Tak mungkin mendapat sesuatu
yang sempurna sesuai dengan terbitnya matahari dari timur dan hembusan angin
darat menuju laut.
Cepatlah
kau sadar wahai pendosa. Cepatlah. Segera. Atau semuanya terbakar.
Hangus.

tragedy.

May 28th, 2007 by icha-ramone

Hari - harimu
akhirnya terketuk oleh ketakpeduliannya! Jiwa yang terkurung di dalam raganya
membuatku semakin yakin akan persembahan yang telah kurajut dengan benang emas
ini akhirnya membentuk suatu untaian permadani. Haruskah aku merasa beruntung
atau malah merasa terhina? Ujian yang berat tanpa perlu presisi sudah kutelan
dengan lahapnya. Tapi mengapa perlu merasa takut? Batu yang sama dengan
kedudukanku itu dapat kupecahkan dengan mudah! Kawatir? Buang – buang waktu.
Terlalu tidak berkembang. Semua yang lewat, berlangsung, bahkan tiada itu bukan
sebuah dan sesuatu yang harus diperlombakan. Lomba? Aku pasti menang. Sampai
kapanpun aku pasti menang! Karena sebuah kepastian berlangsung. Bahkan dengan
mudah kulompati. Kepalsuan, keaslian, kemunafikan, kebohongan, kesenangan sudah
tak berarti. Itu semua hanya beberapa kotak susu murni yang dapat dengan
nikmatnya kuteguk bersama dengan sebuah donat jenis glazzy bermajaskan metonimia j-co.
Aku bahagia. Sempurna. Rasa
dan karsa terukir indah tanpa memikirkan perih kembali.
Aku senang
memilikinya. Memiliki apa yang tidak orang miliki. Dia satu. Dia untukku.

Staralfur..

May 28th, 2007 by icha-ramone

Sigur Ros - Staralfur

Blá Nótt Yfir Himininn
Blá Nótt Yfir Mér
Horf-Inn Út Um Gluggann
Minn Með Hendur
Faldar Undir Kinn
Hugsum Daginn Minn
Í Dag Og Í Gær
Blá Náttfötin Klæða Mig Í
Beint Upp Í Rúm
Breiði Mjúku Sængina
Loka Augunum
Ég Fel Hausinn Minn Undir Sæng
Starir Á Mig Lítill Álfur
Hleypur Að Mér En Hreyfist Ekki
Úr Stað – Sjálfur
Starálfur
Opna Augun
Stírurnar Úr
Teygi Mig Og Tel (Hvort Ég Sé Ekki)
Kominn Aftur Og Alltalltílæ
Samt Vantar Eitthvað
Eins Og Alla Vegginna

di subuh tak dinanti.

May 26th, 2007 by icha-ramone

Semua ungkapan
hati terkirim ke surga. Begitu panas.
Sungguh.. aku tak dapat lagi menerimanya. Seribu tanya tergulir lewat tetes
tangis. Namun terus – menerus
api neraka yang kuterima.. kemana semua angan yang tertancap jelas pada nadiku?
Mengalir, keluar lewat pikiran pahit. Detik yang berjalan datar membuat
kucing tak lagi ingat dengan sang tikusnya yang berlalu. Karena lemah lunglai
yang didapat. Tenaga tak mampu lagi menopang pikiran. Jiwa dan raga bagai
jigsaw yang tak dapat lagi bersatu. Ketika subuh yang tak dinanti membuat
pikiran membeku dan terpatri, kata – kata rindu keluar dari bibirnya, hingga
tenaga bertambah seribu kali lipat. Harusnya aku bersama dewi mimpi.. tapi kali
ini aku masih bersama sang pujangga kehidupan. Surga yang kuharapkan, lagi –
lagi menjadi bara api yang tak kunjung padam. Kumohon Tuhan.. bagaimana labirin
berduri ini dapat kulewati? Apakah dengan alkohol 40 %??? Apakah harus
kulakukan sama seperti yang dia lakukan? Sudut kamar dengan sebotol hamr?
Semakin menyulut api neraka. Tunggu aku. Jangan berbuat ini. Atau kau akan
terus tersiksa. Sekarang aku tertidur lelap.

entah.

February 12th, 2007 by icha-ramone

Banyak hal yang terjadi dan terus terbayang hingga kelopak mata tertutup. Hanya garis – garis wajahnya yang terus membayangi semua mimpiku. Tetesan air mata yang mengalir membasahi pipiku membuat hati terasa sakit bagai luka tertetes air jeruk nipis. Hari – hari itu membuat aku jadi begini. Semua yang berlaku, semua yang terasa lewat begitu saja namun sangat berkesan membangun tubuhku untuk selalu terbayang bersamanya. Entah rasa apa yang terasa. Begitu bergetar. Begitu sakit. Pilu. Rindu yang luar biasa. Telah berlalu masa – masa begitu dibutuhkan. Begitu membutuhkan namun tak tergubris. Ketidakpedulian namun begitu memikirkan. Itu semua yang terbayangi hingga saat ini. Senin hingga Minggu yang terlampaui begitu menyenangkan, tanpa ada urat leher yang tertonjol membuat setiap detik terasa tenang tanpa perang. Hanya menangisi bersama karena sebuah larangan tanpa alasan. Begitu tersiksa. Senyuman lebar yang nyaris bahkan sudah dipaksakan membuat diri begitu miris namun berusaha tegar. Hal itu akan dapat dilalui, pikirku. Tertawa. Tertawa. Dan tertawa. Hanya itu yang dapat dilakukan olehnya. Sebuah kedewasaan! Aku butuh kedewasaan yang menggiringku menuju ketegaran. Namun pupus. Akhirnya hanyut tanpa jejak. Tak terhubung. Bahkan tak lagi tersambung. Meskipun belum lagi bersama. Tidak ada lagi yang dia pikirkan tentang diri ini. Mungkin ada tapi tak terbaca. Mungkin hilang namun tetap ingin muncul ke permukaan. Sesungguhnya rasa ingin tahu itu besar. Mengapa? Kenapa? Bagaimana? Tidak boleh. Terlarang. Tersembunyi. Kebohongan besar. Bahkan kebohongan publik! Apakah ini semua tindak kejahatan? Jangan katakan ya, karena hati saya menolaknya. Dulu semua terangkai untuk dilalui dengan indah. Dari yang tersembunyi. Sampai akhirnya lelah terungkap. Keindahan perilaku manusia tak tampak lagi di kornea saya. Bayangannya buram padahal siluetnya tajam dan terekam pasti. Namun tak lagi ditemukan. Kemana sebenarnya? Terakhir, jam merah terlekat diingatan saya. Helaian – helaian tak beraturan tetap tergantung namun tak lagi terjamah. Tuhan, tolonglah bimbing jalan yang tak lagi tampak. Kebaikan – kebaikan untuk menebang semua semak yang menghalangi sangat diharapkan. Meskipun sang burung yang telah tersobek kulitnya tak lagi dapat terbang dengan senyum, ingatan saya tak mungkin pudar. Harapan, tangis, dan maaf.

let see..

April 14th, 2006 by icha-ramone

Your skin attached this fragile cliche of my broken heart attack you should swallow your teeth and hang out and stay for a while.

If your hearts still beating it must be the blood.

If your lungs are still working it must be the mud.

If its still light out than kick in the ribs today worth living?

I don’t see anything now so just say what you want to say its kind of funny how i’m not listening anyway lights out, so you can stand to hear i’m scream, now my heart is totally bleeding, broke so hard, and i let it burn, now i tried to forget what happen tonight! And i try to forget you off my head but i Can’t!!!! Hopely the night sky better give something up.